Senin, 03 Juli 2017

RIZIEQ COBA TUTUPI KONFLIK ANTARA TIM 7 GNPF-MUI DAN PRESIDIUM ALUMNI 212




Jakarta - Begitu hebatnya pengaruh rizieq untuk menyelesaikan konflik antara Tim 7 GNPF-MUI pimpinan Ust Bachtiar Natsir dengan Presidium Alumni 212 Ust Sambo, cukup ceramah dan mengupload ke media sosial, masalah antara kedua kubu ini selesai. 




Rizieq Shihab mengatakan “kepada para sahabat dari mulai gerakan GNPF-MUI yang terus membangun dialog dengan semua pihak termasuk dengan pemerintah Indonesia... bahwa selama ini semua gerakan tersebut saling melengkapi dan saling menyempurnakan serta saling menguatkan satu sama lainnya, karena di bangun atas pengertian sehingga menjadi kekuatan yang sangat dahsyat”, Ujarnya, Minggu (01/7/17). 




Padahal Ketua Alumni 212 telah merelease bahwa menyayangkan pertemuan antara GNPF-MUI dengan Jokowi. Sikap Sambo yang menyayangkan ini kemungkinan tidak terlepas dari GNPF-MUI yang bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Sambo. Sambo merasa seperti kurang dianggap oleh GNPF-MUI, Ujarnya Rabu (28/6/17).




Apabila konflik terjadi tidak terjadi tidak mungkin, karena hampir semua media mainstream memberitakannya terutama yang di kenal dengan "Resolusi Jogja". Namun wajar saja jika Ust Sambo merasa di tinggalkan oleh Ust Bachtiar Natsrir, karena awalnya mereka berjuang bersama-sama untuk menggulingkan ahok dan membuat repot pemerintah, sekarang giliran baik-baikan Ustad Sambo tidak di ajak.




Hebatnya lagi kabar ini telah di dengar Rizieq Shihab di negara asalnya yaitu Yaman, dan Dia buru-buru merelease ceramahnya seperti telah disebutkan di atas, bahwa tidak ada satu konflik dan perjuangan yang saling melengkapi, padahal Ustad Sambo orang dekatnya Prabowo Subianto Sudah mengeluarkan "Resolusi Jogja".




Kalau urasan mengkondisikan dari bulat jadi lonjong, dari lurus jadi kusut memang Rizieq Shihab ahli dibidangnya, walaupun isinya berbohong mesin pendeteksi kebohongan apapun tidak akan bisa mendeteksi Rizieq Shihab.




Kembali kepada konflik tadi, memang sebelum mereka melaksanakan rekonsiliasi dan revolusi terhadap Negara Indonesia, seharusnya mereka melakukan secara internal terlebih dahulu. Kerena sejauh ini Indonesia aman dan kondusif, anehnya kenapa mereka bilang seolah-olah Indonesia dalam keadaan genting dan perlu revolusi. 




Apa dalam waktu dekat ini menginjak tahun 2018 dan 2019 mereka mempunyai rencana mengggoyang pemerintah lagi, karena di tahun tersebut adalah tahun yang subur untuk mendulang emas terkait dengan Pilpres 2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About